Triwulan Pertama 2021, Pengadilan Agama Kaur Catat 60 Perkara Gugatan Cerai

oleh -0 views

E-BENGKULU.COM, KAUR – Tingkat perceraian di Kabupaten Kaur pada tahun 2021, cendrung meningkat dibanding tahun tahun sebelumnya.

Hal itu dibuktikan baru memasuki bulan ketiga, jumlah perkara yang masuk sudah mencapai 60 perkara, baik cerai talak maupun cerai gugat.

Bahkan, dari perkara-perkara yang masuk itu, sudah diputuskan sejak bulan Januari hingga 23 Maret, berjumlah 38 perkara.

Muhammad Hidaytullah selaku Hakim di Pengadilan Agama Kabupaten Kaur saat ditemui RRI Bintuhan disela-sela persidangan di Pengadilan Agama Bintuhan menyebutkan,

trend perceraian tahun ini meningkat.

Hanya saja pihaknya tidak mengetahui apakah peningkatan tersebut karena dari dampak pandemi covid-19
tidak tetapi diakui, pihaknya akan mengkaji lebih jauh lagi terkait hal tersebut.

“Tren nya memang meningkat Apalagi dari kasus perceraian yang masuk kebanyakan perkara cerai gugat, atau pihak istri yang meminta bercerai, yakni, 46 perkara. Sementara cerai talak atau suami yang meminta hanya 14 perkara,” jelasnya pada kamis (25/3/2021)

Selain itu menurut Hidayatullah, dari berbagai kasus perceraian yang sudah diputuskan, kebanyakan berlatar belakang perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Selanjutnya karena faktor ekonomi, meninggalkan salah satu pihak, KDRT, dan terakhir faktor penggunaan obat terlarang.

“Kebanyakan karena perselisihan dan pertengkaran serta faktor ekonomi, bisa karena dampak pandemi. Tapi ada juga karena faktor meninggalkan bisa karena dampak pandemi. Tapi ada juga karena faktor meninggalkan salah satu pihak, KDRT serta penggunaan obat-obatan terlarang,” terangnya.

Lanjut ditambahkan perselisihan mendominasi dan kasus Hidayatullah, pertengkaran perceraian, kebanyakan karena dampak dari penggunaan media sosial, sehingga banyak terjadi perselingkuhan yang membuat salah satu pasangan mengajukan gugatan.

Disisi lain, sepertinya kurangnya pondasi agama dari kedua pasangan yang bersiteru, sehingga membuat keharmonisan rumah tangga menjadi tidak tenteram.

Untuk itu ia mengharapkan kepada setiap pasangan suami istri ketika ada permasalahan supaya diselesaikan dulu secara kekeluargaan dan jangan sampai langsung ke Pengadilan.”Media sosial berpengaruh besar dari beberapa kasus ini, karena penggunaannya negatifnya kebanyakan selingkuh di dunia maya. Tak kalah penting lagi pondasi agama yang masih rendah, kebanyakan menjalankan sholat lima waktu saja ada yang tidak sama sekali, terutama pada pasangan-pasangan muda,” tutupnya.(kif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *