Mengenang Sosok Korban Laka Maut

oleh -2 views

SOSOK Efsan Tommy (34) warga Desa Padang Leban Kecamatan Tanjung Kemuning korban kecelakaan maut, Senin (18/3) pukul 21.30 WIB tidak asing bagi warga sekitar dan keluarganya. Korban dikenal sebagai sosok murah senyum dan pekerja keras. Dua bulan terakhir, gencar bebleng mental anak sulung. Berikut laporannya.

AMAR FATIH – TANJUNG KEMUNING

SUASANA duka masih menyelimuti keluarga besar Efsan Tommy atau yang lebih dikenal oleh warga dengan panggilan Mumik (34). Pascakecelakaan maut yang dialami korban pada Senin (18/3) malam, keluarga korban masih belum percaya kepergian korban menghadap sang pencipta alam begitu cepat. Banyak kenangan semasa hidup korban yang terngiang ditelinga keluarganya. Sebelum meninggal dunia, korban sedang mempersiapkan membangun warung sebagai tempat usaha sang istri. Belum lagi, cita-citanya terwujud ia sudah dipanggil menghadap sang ilahi dengan meninggalkan dua orang anak dan satu isteri. Selain itu, korban juga meninggalkan ibu dan kakak-kakaknya.

Dimata keluarga dan masyarakat Desa Padang Leban, korban merupakan sosok pemurah, susah senang yang dirasakannya selalu tersenyum. Tidak pernah terlihat rawut muka masam dan cemberut setiap masalah yang dihadapinya. Bahkan, sosok bapak dua anak ini pun tidak sungkan memberikan pertolongan kepada siapa saja. Sebagai kepala keluarga, korban berfikir untuk menjadikan putra sulungnya tumbuh dewasa sebagai sosok yang peduli dan bertanggungjawab terhadap keluarga dan masa depannya.

Dua bulan terakhir dimasa hidupnya, korban seakan meninggalkan pesan bagi keluarga khususnya terhadap anak sulungnya. Hampir semua keinginan sang anak dipenuhi asalkan tetap belajar sebagai penerusnya kelak. Sebagai anak laki-laki, ia menginginkan buah hatinya tumbuh dewasa sebagai pengganti dirinya. Meskipun baru duduk dikelas IX MTsN 4 Kaur, korban memulai gebleng mental dan sikap anaknya. Korban melihat potensi sang buah hati hobi olahraga otomotif, ia pun mendidik anak sulungnya dengan ikut tampil diajang kompetisi motor cros bulan Februari lalu di Kota Manna. Dengan harapan, olahraga tersebut mampu melahirkan sikap dan semangat juang bagi anaknya.

“Almarhum adalah sosok yang murah senyum. Tidak pernah mengeluh atas apa yang dihadapinya. Kami banyak belajar dari sikap dan sifatnya,” ujar Edi Artonis (43) kakak almarhum Efsan Tommy menahan tangis kepada e-bengkulu.com.

Kepergiannya begitu cepat, hingga menghembuskan nafas terakhir di ruang rawat Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Kaur, tidak ada satu katapun yang terucap dibibirnya kepada keluarga. Almarhum pergi menghadap sang pencipta alam semesta tanpa meninggalkan pesan apapun. Yang membuat kesedihan keluarga, terbayang bagaimana air mata mengalir jelang kepergiannya. Air mata tersebut seakan sebagai pesan dan isyarat kepada keluarga untuk berpamitan. Almarhum memberi isyarat untuk ikhlas menerima semua takdir yang digariskan.

“Keluarga besar almarhum terus mencoba untuk ikhlas melepas kepergiannya. Keluarga akan melanjutkan perjuangannya mendidik anak-anak agar tumbuh sebagai generasi yang ikhlas seperti beliau semasa hidupnya,” urai Edi Artonis mengusap air mata yang menetes.

Semua sudah kehendak Allah SWT, meskipun terkadang muncul rasa tidak percaya akan takdir. Kesedihan semakin pilu tatkala melihat sosok putri bungsu beliau yang baru duduk di kelas III SD. Masa depannya masih cukup panjang dan sangat merindukan akan belaian kasih sayang dari ayahnya. Begitu berat cobaan yang diberikan kepada keluarga dengan mengambil orang yang disayangi. Tidak ada lagi orang yang akan memberikan motivasi serta melindungi dari segala hal. Namun, keluarga besar akan selalu tegar dan sabar semoga dibalik musibah ini ada hikmah besar yang Allah SWT janjikan, tutupnya.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *