Kurun Satu Hari, Dua Warga Bersimbah Darah

oleh -4 views

E-BENGKULU.COM, PADANG GUCI HILIR – Dalam tempo sehari, dua warga tersungkur akibat penganiayaan. Satu korban dialami oleh Arsik (71) warga Desa Sulauwangi Kecamatan Tanjung Kemuning, Jumat (8/3) pukul 21.00 WIB. Sehari kemudian, kasus penganiayaan kembali terjadi, kali ini korban dialami oleh Hermawan (44) warga Desa Talang Jawi II Kecamatan Padang Guci Hilir pada Sabtu (9/3) pukul 13.30 WIB. Korban Arsik mengalami luka dibagian bahu serta telinga bagian kiri akibat dihantam menggunakan meja kayu oleh pelaku yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri berinisial Da (48). Sedangkan, korban Hermawan bersimbah darah akibat ditusuk menggunakan pisau dapur bagian dada kanan oleh pelaku berinisial To (39).

Pelaku Da saat ini masih meringkuk dalam sel tahanan Polsek Tanjung Kemuning karena dilaporkan korban ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya menganiaya ayah kandungnya sendiri tanpa rasa kemanusiaan. Sedangkan, pelaku penusukan terhadap korban Hermawan sempat diamankan di Polsek Kaur Utara. Namun, kasusnya tidak dilanjutkan secara hukum mengingat kedua keluarga bersama pemerintah kecamatan dan desa melakukan perdamaian secara kekeluargaan menyelesaikan selisih paham yang terjadi. Mediasi dilakukan di Polsek Kaur Utara dihadiri oleh Camat Padang Guci Hilir, Ali Suanadi, S. Pd, Pjs Kades Talang Jawi II, Sugiarto serta tokoh masyarakat dan keluarga kedua pihak.

Data terhimpun E-Bengkulu.com menyebutkan, korban penusukan berawal saat keduanya ikut gotong royong membongkar tenda disalah satu rumah warga usai hajatan. Warga gotong royong mengembalikan kursi yang dipergunakan hajatan dan tenda. Pelaku mengatakan kepada warga, agar kursi tersebut langsung diantar ke rumah warga yang akan menggelar hajatan lain besok (hari ini, red). Namun, usulan pelaku dibantah oleh korban yang mengatakan agar kursi tersebut terlebih dahulu dikembalikan ke kantor desa. Jika nanti yang akan menggelar hajatan ingin memakai kursi tersebut dapat diambil di kantor desa. Tidak terima dengan perkataan korban, pelaku secara diam-diam pulang kerumah dan mengambil pisau dapur. Kemudian, pelaku kembali lagi menghampiri korban dan langsung berkata “Tape kate kaba tadi” dalam bahasa Padang Guci. Belum sempat dijawab korban, pelaku sudah menusukkan pisau dapur yang dibawanya dari rumah tepat dibagian dada kanan. Akibatnya, korban langsung terungkur diantara tumpukan kursi bersimbah darah. Warga kaget melihat kejadian tersebut dan langsung melerai pelaku, sebagian warga melarikan korban berlumuran darah ke Puskesmas Kaur Utara untuk mendapat pertolongan medis. Pelaku diserahkan ke Polsek Kaur Utara untuk diamankan menghindari hal yang tidak diinginkan. Setelah memastikan kondisi korban, pemerintah desa bersama kecamatan langsung berkoordinasi bersama kedua keluarga yang bertikai untuk mencari jalan keluar penyelesaian masalah.

Usai mendapat perawatan medis, korban diperbolehkan pulang ke rumah untuk menjalani rawat jalan. Kemudian, kedua keluarga ini sepakat untuk menggelar mediasi di Polsek menyelesaikan masalah serta meminta aparat kepolisian menjadi mediator. Dengan pertimbangan keamanan dan mencegah terjadinya konflik yang lebih besar, akhirnya mediasi berjalan dengan lancar. Keluarga pelaku memenuhi tuntutan keluarga korban menanggung seluruh biaya pengobatan di Puskesmas hingga korban sembuh total. Kemudian, keluarga pelaku juga menyanggupi menanggung seluruh biaya jamuan damai adat yang akan dilaksanakan di desa.

“Ya, kasus 351 KUH Pidana tentang penganiayaan secara resmi diselesaikan musyawarah adat. Kedua pihak sepakat untuk tidak memperpanjang ke ranah hukum. Namun, Polsek Kaur Utara tetap melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan damai adat tersebut,” ujar Kapolsek Kaur Utara, Ipda Tomson Sembiring, SH kepada E-Bengkulu.com.

Terpisah, kasus penganiayaan yang dialami korban Arsik hingga sata ini masih ditangani Polsek Tanjung Kemuning. Pelaku masih diperiksa penyidik dan mendekam dalam sel tahanan. Menurut penyidik, penganiayaan berawal pelaku meminta korban yang tak lain ayah kandungnya untuk membuat sesajian di pantai. Permintaan anak sulung korban tersebut ditolak oleh korban. Karena emosi permintaannya ditolak, pelaku nekat memukul sang ayah menggunakan meja kayu tepat dibagian telinga kiri. Akibat hantaman meja tersebut, korban terungkur ke lantai dan pingsan. Pelaku tak kunjung sadar atas perbuatannya dan berupaya menyerang ayah yang sudah terkapar tak berdaya. Beruntung, aksi sadisnya langsung dilerai adik pelaku. kemudian, warga sekitar langsung mengamankan pelaku dan membawa korban ke RSUD Kaur. Pelaku dijemput anggota Polsek di rumahnya tanpa perlawanan.

“Pelaku masih diamankan dan menjalani pemeriksaan. Dijerat pasal 351 KUH Pidana dengan ancaman penjara diatas tiga tahun penjara,” ujar Kapolsek Tanjung Kemuning, Iptu Pidraini Gumay melalui Kanit Reskrim, Brigpol Rohandi.(amr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *