,

Keterbatasan Ekonomi, Tak Mampu Berobat Warga Lebong Butuh Uluran Tangan

oleh -0 views

LEBONG, E-BENGKULU.COM – Kisah pilu Halimatus Sa’adia (42) dan Yovison Irawan (48) Pasangan Suami Istri (Pasutri) buruh tani warga Desa Pungguk Pedaro Kecamatan Bingin Kuning Kabupaten Lebong. Ia mengalami sakit-sakitan tinggal di rumah cukup sederhana yang merupakan bantuan bedah rumah pada tahun 2018.

Tinggal dirumah yang pas-pasan itu, ia pun merawat orang tuanya yang juga sakit-sakitan, Halimatus Sa’adia (42) saat ini menderita penyakit komplikasi, setiap hari ia harus menahan rasa sakit itu dikarenakan keterbatasan pembiayaan.

Sembari berlinangan air mata, dia menceritakan penyakit yang di deritanya saat ini. Ia menderita penyakit kista, kangker rahim serta usus buntu. Awal tahun 2020, ia pernah memeriksakan penyakit yang dia derita ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong, dan pada tanggal 23/01/2020 dokter memberikan rujukan ke RS M Yunus Bengkulu guna pemeriksaan lebih lanjut sekaligus tindakan operasi. Namun rujukan dokter pun enggan dihiraukan dikarenakan keterbatasn biaya.

“Untuk berangkat ke Bengkulu aja kami gak punya uang, apalagi sampai saya di operasi di RS M Yunus Bengkulu, dan disana kami juga butuh biaya hidup sedangkan penghasilan suami berkisar Rp, 50.000-60.000/ hari dan itupun jika ada yang mengajak suami saya bekerja,” ungkap Halimatus sembari berlinangan air mata.

Terkadang penyakit yang saya derita ini kambuh, dan saya hanya bisa menahan rasa sakit itu sembari berbaring diatas tempat tidur, belum lagi saya memikirkan penyakit yang diderita oleh orang tua saya, orang tua saya menderita penyakit darah tinggi dan sesak nafas, dan jika sakit nya kambuh saya hanya bisa membeli obat seadanya itupun kalau lagi ada uang, ucapnya lagi.

Bantuan sosial yang dijanjikan pemerintah bahkan sama sekali tak mereka terima, dan justru diterima tetangga mereka yang hidup lebih layak.

Dulu saya pernah dapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) gratis dari pemerintah, tapi saat ini Kartu KIS itu sudah tidak dapat digunakan lagi karna sudah nonaktif.

Inilah sebuah potret ketidakadilan sosial yang kembali terjadi di masyarakat saat masa pandemi corona berlangsung.

Pihak yang membutuhkan, malah tidak mendapatkan bantuan, sementara mereka yang mampu malah mendapatkan bantuan.

Inilah yang terjadi pada pasutri Halimatus Sa’adia (42) dan Yovison Irawan (48). Yovison yang hanya bekerja sebagai buruh tani harus merawat istri serta ibu mertuanya yang sakit-sakitan.

Halimatus bercerita, ia menderita sakit sejak dua tahun lalu. Akibatnya, ia tak mampu bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Sakit kangker, usus buntu sama kista membuat ia sangat menderita, adakalanya saat penyakitnya kambuh perut pun ikut membesar dan rasa sakit yang begitu perih kalau kerja sedikit lemas kadang berhari-hari baring tidak bisa bangun,’ kata Halimatus.

‘Kalau bantuan belum pernah ada, baik BLT DD (bantuan Langsung Tunai Dana Desa) atau BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) dan bantuan lain-lain yang dikucurkan pemerintah,’ kata Halimatus

Meski tak menerima bantuan, pasutri ini tetap merasa bersyukur sebab mereka masih bisa bernapas, serta suaminya Yovison masih bisa bekerja meski dengan segala keterbatasan.

‘Kami tetap bersyukur walau pun tidak terima bantuan. Sebab Allah masih memberikan kami kebebasan untuk bernapas dan mudah-mudah penyakit saya dan ibu saya bisa sembuh,’ pungkas Halimatus

Dan bagi saudara-saudara yang ingin membantu meringankan beban kehidupan saudara kita ini dapat menyalurkan bantuan melalui Rekening BRI an, YOVISON IRAWAN (Suami Halimatus)
5624-01-021902-53-7
Atau bisa datang langsung ke alamat Desa Pungguk Pedaro – Bingin Kuning -Lebong
Cp. 081278971462

Semoga kita semua dapat meringankan beban penderitaan saudara kita ini terimakasih.(efr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *