Dilema Sistem Pembelajaran Daring Bagi Pelajar di Hulu Kecamatan Kinal

oleh -23 views

KINAL, E-BENGKULU.COM – Tahun ajaran baru telah resmi dimulai pada 13 Juli 2020 lalu. Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dimasa pandemi covid-19 ini, sistem pendidikan pun mulai menerapkan metode online. Sehingga pemerintah mengambil kebijakan dengan memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh atau Daring secara online, baik menggunakan media ponsel ataupun laptop. Melalui sistem Daring ini, para siswa didik dituntut untuk lebih banyak belajar dari rumah. Namun, kondisi serba keterbatasan dialami oleh sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama yang berada diwilayah Kecamatan Kinal, Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Mulai join perangkat smartphone, hingga harus mencari spot (area) jaringan internet, menjadi rutinitas para pelajar di hulu Kecamatan Kinal. Hal ini disebabkan oleh kondisi grografis Kecamatan Kinal yang mayoritas wilayahnya dikelilingi oleh perbukitan. Karena hal tersebut, masalah jaringan internet dari provider seluler tidak bisa menjangkau sebagian besar desa-desa diwilayah tersebut.

“Ya, desa-desa yang ada di wilayah Hulu Kecamatan Kinal ini memang terkendala sinyal, tidak ada jaringan. Untuk mengakses jaringan internet, para pelajar di Hulu Kecamatan Kinal ini harus menuju ke wilayah puncak perbukitan yang berada diwilayah Desa Gunung Megang, yang berbatasan dengan Kecamatan Lungkang Kule. Hanya di puncak ini jaringan internet bisa diakses,” ujar Bhabinkamtibmas Polsek Kaur Tengah, Brigpol Radius Gea didampingi Bripka Hadi PIW, saat memantau kegiatan pembelajaran dengan sistem daring yang dilakukan sejumlah siswa dikawasan puncak Desa Gunung Megang, Kecamatan Kinal, Kamis (23/7/20).

Menurutnya, implementasi pembelajaran sistem Daring ini secara umum berjalan dengan lancar. Namun demikian, lanjutnya, sejumlah permasalahanpun muncul dari sistem pembelajaran Daring yang dialami para siswa dan wali murid di wilayah itu. Seperti koneksi jaringan internet yang masih sangat buruk. Akibatnya, para pelajar ini hanya bisa mengakses jaringan Internet maupun seluler di tempat-tempat tertentu. “Dari keterangan mereka (para siswa) didapati beberapa permasalahan yang dialami oleh para siswa dari sistem pembelajaran daring ini. Diantaranya tugas guru yang dinilai pelajar terlalu banyak. Hingga keluhan siswa soal kuota data, dan jaringan Internet yang masih menjadi kendala tersendiri. Hal ini karena tidak tersedianya tower pemancar jaringan seluler maupun jaringan internet. Bahkan mereka (siswa) harus keluar rumah mencari Jaringan Internet,” pungkasnya. (a2n)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *