Di Era Digital, Jurnalis Diingatkan Etika Pers

oleh -16 views

BENGKULU, E-BENGKULU.COM – Saat ini, masyarakat Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan informasi mengenai berbagai isu terkini, seperti politik, hukum, sosial, budaya, teknologi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Di era digital ini, masyarakat bisa mendapatkan informasi hanya dalam hitungan menit saja. Hal ini dikarenakan media online sudah seperti bagian hidup masyarakat yang tidak bisa terpisahkan.

 

Saat ini Media online sudah seperti merajai berbagai media massa lainnya, seperti cetak dan elektronik. Kehadiran internet memudahkan saluran komunikasi yang satu ini untuk menyajikan berbagai informasi dan berita terkini. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan jurnalis yang bernaung dibawah perusahaan-perusahaan media online tersebut dalam mengumpulkan isu-isu yang ada saat ini.

“Lebih dahsyat lagi posisi media siber, media digital (online), kita tahu kecepatannya, kemudahannya. Kemudian dari sisi efisiensinya itu luar biasa, ini membuat sumber daya media itu lebih punya nilai,” tutur Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, saat menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan Rakor, Stadium General, dan Launching News Room “Bengkulu.Siberindo.co” Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bengkulu, di Ballroom Hotel Mercure Bengkulu, Rabu (26/08/20).

Menurut pandangan Rohidin, media dan pers adalah sumber daya yang sangat esensial, yang fungsinya media tidak pernah bisa digantikan dengan apapun. Oleh karenanya, lanjut Rohidin, sudah sepatutnya media dan wartawan diposisikan pada posisi yang terhormat di tengah-tengah masyarakat. Meskipun demikian, lanjut Rohidin, para jurnalis diharapkan tetap mengedepankan kode etik dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya.

“Tapi di sisi lain, para wartawan dan teman-teman media juga harus tetap mengedepankan betul posisi etika pers, ini harga mati. Karena kenapa? Pejabat setinggi apapun bisa ‘mati’ mendadak dengan media, pelaku ekonomi sehebat apapun bisa kolaps karena media,” bebernya.

Kalau mau melihat isi suatu daerah, isi suatu bangsa, kata Rohidin, tidak usah terlalu ke dalam, cukup melihat bagaimana cara media menarasikan kalimat, maka kelas daerah itu sudah ketahuan. Karenanya penting untuk media menjaga keseimbangan antara posisinya yang terhormat itu dengan etika.

Sementara itu, Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi dalam sambutannya mengatakan, media sangat berperan dalam menanggulangi hoax. Pasalnya, hoax merupakan sebuah berita yang tidak sesuai dengan fakta. Menurutnya, di era digital ini masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan sangat cepat. Sehingga, meskipun zaman terus berubah dan teknologi semakin berkembang dengan pesat, pers harus tetap mengedepankan akurasi berita daripada kecepatan untuk melawan hoax. “Di era digital ini kecepatan (menyampaikan informasi) itu penting, tapi akurasi jauh lebih penting,” ujar Dedi Wahyudi yang lebih dikenal sebagai salah satu insan pers di Bengkulu ini.

Oleh karena itu, kata Dedi Wahyudi, pers harus berpegang teguh pada kode etik jurnalistik, salah satunya, wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah, yang terdapat dalam Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik. (a2n)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *